Rabu, 29 Mei 2013
Cerpen Edisi Baru 2013 "Mengejar Cinta" Part I
Ardhi
Dwiky Prawira
Untuk
awal pengenalan yang kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”, namaku Dwiky.
Lengkapnya Ardhi Dwiky Prawira, kelas IX D Smp Negeri 2 Girikarta. Kata
teman-teman sih aku cowok yang keren tapi takut patah hati. Hehe wajar dong..oh
iya, percaya tidak sih sama cerita-cerita Sinetron di TV ? itu loh tentang
cinta pada pandangan pertama yang katanya abadi ? hmm kalau di Logika yang
namanya Sinetron kan pasti Cuma bohongan kan. Tapi siapa sangka, aku sendiri
mengalaminya. Ya tepat sekali, Pandangan Pertama Cinn ..aduh duh…
***
Tahun ini akan ada Lomba Tilawah antar SMP se-kecamatan.
Dan pastinya aku dong yang jadi nominasinya. Hehe bukannya sombong nih,
masalahnya aku ini walaupun nakalnya selangit,suka ikut anak-anak punk tapi
jangan kira aku pecandu narkoba,atau perokok seperti orang pada umumnya ya.
Justru aku salah satunya anak laki-laki kelas IX D yang pandai mengaji, hemm
bakat dari leluhur soalnya.
Pendaftaran peserta terasa sangat membosankan
bagiku.Alhasil aku dapat nomor undi 9. Yaaahh aku termasuk nomor-nomor kecil
yang artinya aku bakalan pulang lebih dulu dibanding nomor belasan yang lain.
Saat memasuki ruang perlombaan, aku masuk dengan PDnya dan duduk di barisan
depan dengan seorang cewek, hehe. Eh,si cewek itu ternyata cerewet banget.
Tanya itulah tanya inilah, jujur saja aku tidak begitu suka dengan cewek
cerewet dan lebih suka banget sama cewek pendiam nan anggun.
“Oh iya, kamu nomor urut berapa ?”Clemot cewek itu.
“Nomor awal dong, 9.”Kata ku dengan bangga.
“Haa..nomor awal katamu ? hahaha” Tertawa geli.
“Iya, kenapa ketawa ?memang kamu nomor berapa ?” Tanya ku
pada akhirnya.
“Nomor urut 2.Peserta disini Cuma ada 10.Kalau kamu nomor
urut 9 berarti kamu termasuk yang terakhir dong.Hahaha kamu nih gimana sih.”
“Waduuuhh, aku tidak tahu.”Jawab ku singkat menahan malu.
“Hehehe iya tidak apa-apa,sebentar lagi aku akan maju.
Doa’in ya !”
“Yee enak saja, kita ini bersaing.Masa aku harus doa’in
kamu menang sih.”
“Hemm.”
Biarlah, mungkin dia beranggapan aku ini tolol,bodoh dan
semacamnya atau sombong. Aku udah biasa begitu jadi setiap ada yang komentarpun
tentang aku, aku Cuma mengerlingkan alisku tanda damai. Tapi bisa dibilang aku
malu banget kali ini, dipermalukan seorang cewek gitu !haduuuhh parah, bisa
ancur nih reputasiku sebagai cowok keren. Hehe..
Setelah beberapa menit aku hanya diam karna malu, aku
melihat seseorang datang terlambat memasuki ruangan dengan wajah biasa
saja.Seperti sedikit murung fillingku. Tapi,setelah aku tatap dia terus menerus,dia
cantik juga. Pendiam,anggun,manis lagi senyumnya. Haa apa ?senyum ?ya,dia baru
saja tersenyum melihatku saat masuk ruangan,karna tempatku pinggir dekat pintu.
Dia duduk di barisan belakang yang memang sangat jauh dariku.Setiap kali aku
menoleh padanya, dia juga menatapku lalu kemudian beralih pandangan.
***
Puas
juga sih menatap senyuman cewek tadi yang sedang bergurau dengan teman
sebangkunya, entah sudah kenal atau belum tapi terlihat sangat akrab. Huft, BT
juga gak di ajak ngomong sama cewek cerewet tadi. Dan saat gilirannya tiba,
ternyata bagus banget suaranya.Mengajinya dengan nada atau sering disebut
dengan Tilawah. Wuiihh aku mulai sok tahu nih,hehe. Tapi, aku ciyus ini.Baru
pertama kalinya dibuat melongo karna kagum.Ya, dan setelah itu dia mulai
Cerewet lagi.
“Hey,bengong
saja dari tadi. Kenapa ?”Tanya dia.
“Haa
?siapa yang bengong ? hemm, namamu siapa sih cerewet banget !” Ups aku
keceplosan.
“Huuh,
dasar. Kenalin,nama ku Arista.” Sembari menyodorkan tangannya.
“Oh.”
Balasku pada akhirnya.
Nomor undi berikutnya ternyata masih sama dengan
menggunakan Nada. Haduh, bagaimana ini ? Masa sih aku hanya polos tanpa Nada
?gengsi dong. Semakin dibuat BT saja aku hari ini.Tapi, tidak sepenuhnya sih.
Hehe, kan masih ada si cewek Idola ku yang duduk di barisan belakang. Kembali
aku tatap dia dan kali ini aku tersenyum, Eh dia menatapku seperti sedang grogi
mungkin.Hahaha tatapan ku mujarab atau aku kelihatan keren kali ya.
Waktu semakin cepat berlalu saja, hingga tiba akhirnya di
nomor undi 8. Itu artinya sebentar lagi aku akan tampil. Kok jadi deg-deg’an
gini ya ? Aneh, apa gara-gara cewek Idola tadi aku jadi begini. Bagaimana jika
dia melihatku saat tampil dengan nada polos yang tak bermutu ?aku semakin gugup
saja saat angka 9 disebutkan oleh Dewan Juri. Namun, langkah ku tetap mantab ke
barisan paling depan tepat menghadap barisan si cewek Idola. Ku buka dengan
salam dan senyum pada semuanya. Saat nya aku memulai.
Keringat dingin mengguyur wajah ku dengan derasnya, baru
kali ini juga segugup ini. Masa sih cowok keren kaya aku gugup ?Haduh … setelah
Dewan Juri mempersilakan aku mundur, sudah sedikit tenang perasaan ku.
“Perfect
deh kamu.Hehe” Lagi-Lagi si Cewek Cerewet membuka pembicaraan.
“Hah
?Masa sih, bagusan juga kamu.” Dan anehnya, kenapa aku harus memuji dia ?
“Makasih,
setelah kamu siapa ya ?tinggal menunggu nomor undi terakhir nih.”
“Siapa
ya ?aku juga tidak tahu.” Celingak-Celinguk
Sekarang, aku sedang Melongo karna betapa berdegup
kencangnya hatiku saat melihat langkah anggung si cewek Idola ku.Dengan
mengenakan Rok panjang dan baju berwarna pink seperti sedang mencerahkan
hatiku. Hahaha kenapa sih aku ini ?aku langsung tersadar saat Arista
memanggilku. Yang benar saja ? Aku panggil dia Arista ?
“Oh, lihat.Itu dia peserta terakhir yang tadi terlambat.”
Jelas Arista
“Iya, manis banget ya.” Ngelantur
“Wah,kamu suka ya sama dia ? cocok kok sama kamu.
Sama-sama SMP.”
“Loh, tahu dari mana kamu ?” tanyaku
“Aku sudah sering lihat dia pakai seragam SMP.”
“Jadi,kamu sudah SMA ya ?”
“Ya iyalah adek, hehehe. Tapi SMK.” Ledek Arista
“Dasar Lu.”
Ku
kira,aku bakal jadi cowok tercupu di ruang ini Cuma gara-gara ngaji gak pakai
Nada. Ternyata si cewek Idolaku sama kaya aku, wah sehati banget. Hehehe
***
Karna
si cewek Idola ku itu adalah peserta terakhir, maka kini adalah saat yang
sangat mendebarkan yaitu pengumuman kemenangan (padahal sebenarnya aku biasa
saja dan tak berharap menang) Ternyata, Juara mengaji tahun ini di bagi dua
golongan yaitu SMA/SMK dan SMP yang artinya bakal ada 4 orang yang menjuarainya
nanti (PA/PI dari SMA/SMK dan PA/PI dari SMP)
“Aku
yakin,pasti kamu yang menang.” Canda ku kepada Arista
“Hehe
AMIN, semoga saja kamu juga menang.”
“Haluah,
aku sih gak berharap menang.Udah Pesimis dulu, liat saja Cuma aku yang ngaji
nya gak pake Nada.”Curhat ku penuh kesal.
“Ya
siapa tahu saja bakal ada kejutan.”
“Maksud
kamu BEJO ?!” Teriak ku masih dengan kekesalan sehingga membuat semua orang
menatap ku tak terkecuali si cewek Idola ku.Hanya senyum andalan ku yang bisa
melumpuhkan muka Idiot ku baru saja.
Ternyata
memang benar, di Tingkat SMA/SMK ini pemenangnya adalah Arista untuk PI dan
teman satu sekolahnya untuk PA.Ketika, dewan Juri membacakan pemenang tingkat
SMP untuk PI aku tak segan-segan melirik cewek Idola ku yang terlihat
biasa-biasa saja tanpa wajah gugup sekalipun. Menurut filling ku (hahay sok
filling-fillingan.) si cewek Idola ku itu pasrah sama seperti ku, karna pasti
bukan kita yang bakalan jadi Juara dan aku sih tidak berharap sama sekali.
Eits,
tapi ternyata dugaan ku SALAH BESAR. Justru si cewek Idola ku itulah yang
menjadi Juara di tingkat SMP untuk PI dengan nama nya yang sangat cantik
seperti orangnya. Ya benar, nama yang begitu pas pada dirinya ketika nama itu
di sebutkan dewan juri “Ashifa Dara
Paramita”begitulah aku akan memanggilnya suatu saat nanti. Saat nama itu
kudengar untuk yang kedua kalinya, aku melirik Ashifa si cewek Idola ku dan ku
lihat dia sedang melongo seperti kesamber petir, tapi itu membuat wajahnya
semakin terlihat sangat menggemaskan dengan akhiran sebuah senyuman pada Dewan
Juri. Dan, kini senyuman itu melayang-layang di kepala ku membuat ku semakin
terus ingin mengingat nama nan cantik itu. Wajah yang begitu polos menggemaskan
seperti boneka Barbie ingin rasanya aku simpan agar tak seorang pun boleh
memegangnya bahkan mengambilnya.Sayup-sayup ku dengar seseorang memanggil
namaku seperti sedang memohon untuk melihat boneka Barbie itu. Daannnn…
“Dwikiiiiiyyy
!!!!”Teriak Arista membuat mimpi indah ku hancur berantakan seperti sedang ada
Badai besar menghantam.(Mulai lagi ngelanturnya.)
“Haaa
??apaa ?” jawab ku malas
“Selamat,
kamu menang.” Dengan wajah berseri-seri
“Haaaaaaa
???????????? Apaaaaaa???????” ku ulang kembali kata-kata ku seperti tak ada
kata lain yang pantas ku ucapkan namun dengan Intonasi yang jauh lebih tinggi.
“Iyaa,
kamu menang IDIOT. Selamat ya..”
“Kook
bisaa ??Idiot ??Menang ??” sontak saja aku terkejut dan selalu mengulang
kata-kata yang sudah terucap dan semakin membuat ku terlihat sangat SANGAT IDIOT.
“Heuuhh,
tau ah gelap.” Terlihat mimik yang putus asa.
“Hehe,
aduh maaf aku gak percaya saja kok bisa aku yang menang ?Dewan Juri pasti
salah. Atau kamu yang salah dengar kali.” Tanya ku masih penasaran dengan rasa
tak percaya.
“Enggak,
kamu memang menang.Dan kita bisa berangkat bareng lagi nanti di tingkat
Kabupaten. Kamu harusnya senang dong kan bisa ketemu lagi sama Ashifa.” Celoteh
Arista yang kali ini dengan penuh kesabaran.
“Iya
ya, oke thanks.” Ku tarik sudut bibirku pelan-pelan ke atas tanpa keraguan demi
memunculkan Ketampanan ku dan menyembunyikan mimik idiot ku baru saja. (Haha
PD)
***
Setelah
pengumuman kejuaraan tingkat Kecamatan usai beberapa minggu yang lalu, belum ada juga kabar tentang
keberangkatan ke Kabupaten bagi yang memperoleh juara 1 termasuk aku (Bukan nya
sombong nih, hehe). Semenjak perlombaan itu, aku jadi jarang banget ketemu sama
Ashifa. Wajah nya selalu terbayang di benak seorang remaja yang lagi jatuh
cinta, sampai saat sekolah pun dia masih ada di pikiran ku.
“Hey Dwi, Lo ada yang naksir loh.” Kejut Rifky
membuyarkan lamunan ku.
“Hah, Biasa orang ganteng udah resiko.” Canda ku.
“Enggak, Gue serius tau. Cewek favorit di sekolah ini
NAKSIR SAMA LO !” teriak nya membuat seluruh seisi kelas terkejut dan aku
juga.”
“E-eh, e-emm apa’an sih kamu ki, jangan keras-keras dong.
Sayang banget ya, aku udah PUNYA CEWEK.” Bantah ku, padahal sebenarnya baru
Calon cewek ku. (Entah mau atau tidak)
“Wah wah wah, siapa Dwi ? kok gak kenalin sama gue sih ?
Payah Lo”
“Ada dueh, mau tau aja.” Gaya ku sok manis pada Rifki.
(seperti gaya bencis haha)
“Huuu, Dasar Lo. Kalau gitu, princess school mau gue
pacarin aja deh. Dari pada nganggur.” Princess school memang julukan bagi Anisa
yang memang paling cantik di sekolah ku.
***
Siang ini,aku lelah sekali setelah mengikuti beberapa
praktikum di sekolahan termasuk olah raga yang membuat badan pegel-pegel. Eh,
walau begitu otot ku kuat-kuat Loh (jangan salah,hehe). Berbaring di sofa yang
empuk sudah sedikit mengurangi beban yang menyangga punggungku seharian ini.
Saat ku pejamkan mataku, terbayang wajah beberapa gadis yang memenuhi pikiran
ku. Ku buka mataku lebar-lebar dan ku ingat siapa yang ada di pikiran ku.
Ternyata, semua cewek itu adalah yang berawalan huruf A dan berakhiran huruf A
pula. (Arista,Ashifa dan yang terakhir Anisa.) pusing kepala ku bisa-bisanya
mereka semua nyampur jadi satu dalam situasi yang sama. (Huuhh)
“Dwikiyyy ! dimana kamu ?” panggil Ibu ku.
“Iya bu, di Ruang tamu.” Sembari jalan mendekati
keberadaan Ibu ku di Dapur.
“Ini, ada surat dari Kecamatan. Coba baca’in, Ibu mau
dengar.” Yah begitulah, Ibu ku memang kurang mendapat Ilmu pendidikan yang
layak dahulu saat Ibu ku masih berstatus pelajar jadi sulit juga untuk membaca
bahkan tidak bisa membaca sama sekali.
“Oh, ini Loh bu. Dwiky mau berangkat lomba lagi ke
Kabupaten minggu depan dan disuruh untuk memperdalam ngaji nya gitu katanya.”
“Ibu doakan kamu menang ya Dwi. Ibu bangga sama kamu.
Biar saja Ibu yang bodoh asal anak-anak Ibu pandai.” Begitu celoteh Ibu yang
hanya ku jawab dengan cengiran pesimis yang memang tak mungkin sekali aku bisa
menang ke provinsi karna kemarin saja hanya BEJO.
Aku kembali melamunkan Ashifa yang aku sama sekali tak
tahu dimana dia Sekolah, dimana dia tinggal dan kemana sekarang dia.
Tapi,setelah aku pikir-pikir lagi kemarin kan lomba antar SMP/SMA/SMK
se-kecamatan, berarti rumahnya dan sekolah nya tak jauh dari sini dan tak
berada di luar kecamatan. (Ya iyalah, IDIOT) wah Ide bagus, yaapp.
Sore ini, langsung ku samber sepeda motor sederhana ku
untuk sekedar main cari angin. Namun, tetap ada tujuan lain yaitu mencari
rumahnya Ashifa. Dengan hanya berputar-putar di jalanan kecil pemukiman dekat
SMP Negeri 1 Girikarta, tak juga ku temukan sosok Bidadari cantik pujaan ku
itu. Ku pikir, saat sore hari begini lah seorang cewek bakal keluar rumah untuk
sekedar istirahat atau apalah dan ku pikir dengan ku mencari rumahnya di dekat
SMP bakal langsung ketemu karna biasanya seseorang sekolah pasti tak jauh dari
sekolah itu sendri tapi ternyata tidak kunjung ada juga. (Sok Tahu dikit boleh
yaa.). Aku semakin murung saja dan tak biasanya aku dibuat seperti ini oleh
cewek. Dan akhirnya pun, aku pasrah. Toh, minggu depan aku yakin banget bakal
ketemu lagi walau mungkin itulah saat terakhir dan aku tak akan menyia-nyiakan
hal itu.
***
Saat
yang ku tunggu-tunggu tiba juga. Pagi ini, semua peserta yang menang di tingkat
Kecamatan sedang berkumpul di depan Gedung. Seperti biasa, aku memakai peci
khas aku banget (Peci miring ke belakang seperti pedagang sate Madura, hehehe
kan keren). Tapi, tiba-tiba saja perasaan ku gelisah saat Bis sudah datang
namun Bidadari ku belum juga datang. Sepertinya air mata ku mulai mengalir saat
muncul perasaan kecewa. Kecewa karna aku belum sempat berbicara dengan nya,
lebih dekat dengan nya dan hanya mengagumi nya dari kejauhan. Ku biarkan air
mata ku kering dengan sendirinya dan saat itulah aku melihat sosok wanita
memakai Baju Putih dengan rok panjangnya yang berhembus angin, Ashifa. Walau,
dia tak mengetahui keberadaan ku disini. Aku akan terus mencoba mendekatinya
dengan berjalan mondar-mandir di depannya (Haha konyol juga sih kedengarannya,
IDIOT).
Sepertinya,
Ashifa sedang tersenyum malu daaann ya, dia melihat ke arah ku. Ku sambut
senyum manisnya dengan senyum sok manis ku. Akhirnya, semua peserta menaiki bis
dan memilih tempat masing-masing. Aku sengaja menunggu Ashifa agar kita bisa
duduk lebih dekat, ya kalau bisa satu kursi berdua. (Ngarep banget).
“Boleh
geser ?” Sapa ku untuk yang pertama kalinya kepada Ashifa, dengan modus dia
bisa duduk di samping ku.
“Hemm”
Sambil menggelengkan kepalanya dan itu menandakan bahwa aku tidak boleh duduk
di samping nya (Huhuhu, mengecewakan sekali bahkan juga memalukan.)
Akhirnya,
aku memutuskan untuk duduk di sebrangnya. Memang masih dekat sih, namun tetap
saja tidak duduk di sampingnya. Dan aku masih saja merenung memikirkan hal yang
tidak-tidak. Satu kata yang dia ucapkan seakan menembus jantung hati ku yang
paling dalam. Seperti lebih jelasnya dia MENOLAK CINTAKU. Baru pertama kalinya
aku benar-benar di buat patah hati oleh cewek polos seperti Ashifa (Jadi
kepingin Uring-uringan). Ku beranikan diri untuk melihatnya yang sedang duduk
santai di samping jendela besar memandang keluar dengan sinar mentari pagi yang
menyoroti wajah imutnya. Sungguh cantik yang alami (Batin ku)
Kini
aku seperti bukan aku, seperti sedang di sihir oleh penyihir cinta sejati yang
tak ingin berpindah menatap sosok Bidadari yang dikirim untuk menyihir seluruh
jiwa ku (Khayalan tingkat dewa-dewi.) Setelah ku pikir-pikir, mungkinkah dia
Mencintaiku ? mungkinkah dia melihat ku ? dan benar-benar mengetahui bahwa aku
lah yang mengagumi nya yang saat ini berada tak jauh dari nya ? Jawaban singkat
terdengar samar di telingaku (Entahlah)
***
Perjalanan
terasa sangat mengasyikkan, beberapa kali ku memergoki Ashifa sedang curi-curi
pandang ke arah ku. seperti sebuah jawaban dari segala lamunan ku tadi. Hati ku
tentunya sedang berdegup kencang dan ini terasa tak biasa bahkan sungguh luar
biasa. Sampai gerogi aku ingin makan saja sampai di lihatin segitunya, (Wah
wah)
Sedari
tadi, senyum ku terus mengembang sejak aku dan Ashifa terus bisa bersama. (Ya
iyalah, PA/PI SMP kan memang harus bersama terus.) sekarang, Ashifa sedang
berjalan laksana seorang Putri di depan ku dengan seorang lelaki tua di
sampingnya dan mungkin itu Ayah nya. Aku pun mengikuti setiap langkahnya dengan
santai di belakangnya, dan setiap kali dia menoleh ke belakang tak ku sangka
aku bakalan Gugup dan tersandung.
“Hey,
kamu tidak apa-apa ?” Ucapnya terlihat cemas.
“E-eh,
E-em i-iya tidak apa-apa kok.” Dan aku mulai gugup lagi. Untuk yang kedua
kalinya aku mendengar sebuah kalimat dan bukan sebuah kata lagi yang keluar
dari bibir mungilnya. Dan aku juga melihat pipinya merah merona mungkin karna
malu sudah ku pergoki sedang curi-curi pandang ke arah ku. (Hehe PD)
Di
ruangan yang tak begitu luas, semua peserta SMP berkumpul. Aku sengaja masuk
terlebih dahulu ketimbang Ashifa karna untuk memastikan tidak akan ada yang
mencelakai Ashifa ketika dia masuk terlebih dahulu. (Perhatian kan aku, hehe).
Namun, ku dapati kursi nya sudah penuh dan hanya tersisa satu untuk ku. Karna
tidak tega maka…
“Ini,
untuk mu dan duduk lah.” Ku persilakan Ashifa duduk dengan sopannya dan
tersenyum kepadaku.
“Terima
kasih.” Lirih suaranya. Walau harus mengambil kursi lagi, namun ini terasa
menyenangkan saat mendengar suaranya.
***
Seperti
biasa, sebelum lomba dimulai. Ku pandangi Ashifa yang sedang berbicara seru
kepada teman barunya. Dan ku sadari ternyata tak sepenuhnya Ashifa itu pendiam
dengan kata lain dia tidak cerewet namun Ramah (Oooowwww). Setelah cukup lama
ku memandangi Ashifa, aku tersentak kaget dengan kehadiran Bidadari lain yang
membangunkan ku dari lamunan tentang Ashifa.
“Permisi,
boleh duduk sini ?” Sapanya kepada ku, dan tak kusadari aku sedang melongo
menatapnya yang begitu cantik dengan gaun ungu nya serta pipi halusnya yang di
hiasi dekik tipis ketika dia tersenyum.
“Oh,
tentu saja. Silakan.” Dan saat itulah aku menghabiskan waktu untuk berkenalan
dengannya sembari menunggu acara dimulai. Kini, aku telah dihadirkan sosok
wanita yang benar-benar sedang dekat dengan ku bahkan jauh lebih ramah kepadaku
dan ku panggil dia dengan nama Dinar.
Hingga
acara di mulai aku dan Dinar masih saja berbincang-bincang dengan serunya. Dia
ternyata pandai melawak sampai aku dibuat terbahak-bahak oleh nya dan melihat
Dinar terus tersenyum membuat aku semakin betah di dekatnya. Namun, setelah lama
aku tertawa karna Dinar aku kembali teringat dengan sosok Ashifa yang duduk
agak jauh dengan ku dan dia terlihat murung tanpa senyum sedikit pun yang
mengembang di wajah imut nya (Cemburu nih yeee, haha PD) mungkin dia memang
cemburu atau bahkan tidak peduli dengan ku. Memikirkan hal itu semakin membuat
rasa sayang ku berkurang padanya, akankah dia tak peduli aku dekat dengan siapa
saja ? aku tidak tahu.
Hal
yang paling mengecewakan adalah kebahagiaan sementara antara aku dan Dinar.
Mungkin bagi cewek lain aku terlalu pemberani, terlalu PD menghadapi cewek
secantik Dinar sampai pada akhirnya aku meminta nomor HP nya secara langsung
tanpa ragu-ragu.
“Din,
pasti kamu punya HP ya ?” Candaku
“Hehe
iya, kok tahu ?”
“Ya
tahu lah, anak muda jaman sekarang mana ada yang tidak punya HP apalagi cewek
secantik kamu.” Jawab ku sekenanya.
“Hahaha
canda’an mu garing tahu gak ?” Ejek Dinar
“Hehe,
aduh sebenarnya niat ku bukan itu Din.” Dengan muka ku yang sudah merah marun
menahan malu.
“Terus
apa Dhi ?” Tanya nya dengan suara lemah gemulai yang memanggilku dengan sebutan
(Dhi) ya tentunya nama ku yang paling depan (Ardhi) dan baru wanita itu yang
memanggil ku Ardhi.
“Aku
pengin minta nomor HP mu Din, kan setelah ini pasti kita tidak bisa ketemu
lagi. Apalagi setelah kamu tampil awal nanti kamu langsung pulang kan ? tidak
mungkin nungguin aku kan ? Jadi Boleh yaaa ? Plisss.” Rayu ku panjang kali
lebar. (sama dengan Luas dong,wkwk)
“Boleh,
085678910111.” Jawabnya singkat padat jelas.
“Wah
nomor yang cantik seperti orangnya.” Gombal ku pada Dinar
“Hahaha
sayang sekali, gombal mu tidak manjur karna aku Cuma bohongin kamu. Wleeekk”
“Haaa
?? ya terus mana nomor kamu Dinaaarr ? huuh nyebelin” (IDIOT)
Setelah
mendapatkan nomor asli Dinar, aku sedikit tenang karna peluang akan kehilangan
Dinar jadi sedikit. Mendengar suara merdu Dinar saat tampil membuat tubuh ku
goyah, dan rasa pesimis ku semakin kuat. Dinar mendapat nomor urut 11 sedangkan
aku 60. Bisa bayangin kan betapa jauhnya jarak itu ? Langkah mundur Dinar pun
membuat seakan tubuh ku layu.
“Aku
pulang dulu ya Dhi, Bye.” Lambaian tangan nya, senyum manis nya, semua itu akan
terasa indah di kenang hingga aku tak sanggup membalas senyum itu dan hanya
melongo melihat sosok Dinar yang hilang di balik pintu. (IDIOT Lagi deh)
***
Kepergian
Dinar membuat ruangan seakan sepi seperti hati ku saat ini. Hanya diam dan diam
yang ku lakukan hingga pada akhirnya ruangan kosong tersisa nomor urut
58,59,dan 60. Ku pandangi seluruh ruangan dan mataku berhenti pada sosok yang
sempat hilang, Ashifa. Masih dengan muka datarnya, wajah murungnya, tanpa
senyum yang mengembang. Aku jadi merasa bersalah karna sedari tadi ku anggap
dia tidak ada dan baru terlihat sekarang. Ku beranikan untuk menyapanya.
“Hey,
nomor urut berapa kamu ?”
“59.”
Jawabnya singkat dan amat singkat. Hanya satu kata.
Namun,
satu kata itu sangat berarti bagiku. Nomor urut 58 sudah keluar baru saja
dan Ashifa sudah bersiap untuk tampil.
Kali ini, hanya aku dan memang Cuma aku yang melihat nya tampil begitu
sempurna. Saat lantunan ayat suci Al Quran keluar dari bibir mungilnya, seakan
dia sedang membacakan ayat-ayat cinta untukku. (Mengkhayal lagi..) ku lihat
dari sorot matanya, dia terlihat sangat gugup. Entah karna berada di depan ku
dan hanya aku yang melihat atau gugup karna memang malu kepada dewan juri, aku
tidak tahu.
Tiba-tiba
saja, Ashifa tersenyum padaku lalu melangkah keluar dan menghilang di balik
pintu. Kini, di ruangan hanya ada aku karna semua Bidadari ku terbang ke
khayangan. Tubuh ku melangkah lemas karna tak ada dorongan semangat sedikit pun
dari Bidadari ku.
Saat
acara memang sudah berakhir, aku melangkah keluar dan mendapati Ashifa sedang
makan dengan manisnya di tepi koridor kelas. Dia tersenyum malu saat aku
menatapnya dalam-dalam penuh arti dan harapan. Namun, aku pun bergegas pulang
karna aku sudah di jemput Ayah ku. Mendapati ada Bis yang ku gunakan saat
berangkat tadi aku memilih pulang bersama Ashifa dan membiarkan Ayah pulang
terlebih dahulu.
Langkah
manis nya melihatkan betapa anggunnya Ashifa, sampai tanpa ku sadari aku sudah
duduk manis di bangku paling depan.
“Ashifa,
duduk sini saja.” Sapa ku sembari senyum padanya. Namun dia menolak ku dengan
halus hanya menggelengkan kepala. Dan saat itulah hatiku hancur, Ashifa duduk
paling belakang sangat jauh dariku. Mungkin aku kecewa, patah hati dan sebagainya.
Karna Ashifa tak menghargai ajakan ku atau lebih tepatnya perasaan ku,
saat-saat terakhir ini lah harusnya Ashifa melihat ku dan benar-benar
melihatku. Semua harapan ku musnah sudah. Kini, ku pejamkan mataku untuk
melupakan segalanya tentang Ashifa hingga benar-benar sosoknya hilang ditelan
waktu.
Bunyi
dering ponsel ku membangunkan ku, dan terlihat sebuah nama yang tak asing
disana, Dinar. Bidadari baru ku itulah yang menumbuhkan semangat baru ku pula.
Aku pun sudah membuat keputusan untuk lebih mengenal Dinar dan menggali
perasaan sayang padanya.
Puisi tentang Alam "16.47 WIB"
16.47
WIB
Sore ini, Alam
mengamuk
Tak menampakkan
semburat jingga di ufuk barat
Namun memunculkan
awan hitam mengepul mengusir awan putih
Surga seakan
hilang menjadi neraka
Tak ada keindahan
yang tampak
MENAKUTKAN, MENGERIKAN …
Kilatan cahaya putih menyambar
Bumi seakan terang lalu padam
Tak ada yang berani memandang
Hanya aku yang menikmati peristiwa Mencekam
Dimana musim kemarau ada Badai Besar
Alam Mengamuk,
Tak tau arah, tak
tau tujuan
Semua terkena
dampaknya
Dari yang berdosa
hingga yang berpahala
Dari seorang kyai
hingga penjudi
Hati ini terus
berdegup kencang
Karna Badai terus
menghadang
Bumi terasa
berguncang
Gelap tanpa
penerang
Hidup atau Mati
???
Tuhan yang tahu
pasti
Kita hanya perlu
berhati-hati
Dan Berserah
Diri…
By : Ulfa Nasrul Hidayati_26
By : Ulfa Nasrul Hidayati_26
Selasa, 30 April 2013
Cerpen Remaja 2013
ROMANTIC
DAY
“Lihat pa, anak kita
cantik seperti Bidadari.” Kata Verly terkagum-kagum.
“Tentu saja, mama nya kan juga
cantik jadi menurun ke anak kita.” Canda Steven.
Suasana bahagia terlihat pada lesung
pipi Verly yang sedari tadi terus memandangi buah hatinya yang baru saja dia lahirkan
tanggal 01 Januari. Bayi perempuan Verly dan Steven mereka beri nama “Ataya”
yang berarti putri cantik nan anggun.
***
Setelah menginjak usia Remaja, Ataya
tumbuh menjadi wanita yang lemah lembut, anggun, seperti bundanya. Dia sekarang
sudah kelas IX SMP Melati Asih. Dikenal sebagai sosok yang pendiam namun juga
ramah. Banyak teman-teman Ataya yang menyukainya. Para gurupun menyayangi Ataya
karena selain cantik nan anggun, Ataya juga pandai bernyanyi dan nilai
akademisnya pun di atas 90.
“Ataya,nanti latihan vocal bersama
Leonard ya di ruang kesenian setelah istirahat pertama. Ibu tunggu.”
“Baik bu, nanti Ataya kesana.” Jawab
Ataya ramah
Ataya menjadi sangat dekat dengan
Leonard sang Gitaris dari SMP Melati Asih karena sering bertemu bahkan berlatih
bersama.
“Hay Ataya, aku sudah menunggumu
dari tadi !” Sapa Leonard
“Benarkah ?” (sembari tersenyum)
“Heemm…” (mengangguk-anggukkan kepalanya)
Lagu yang Ataya nyanyikan selalu
diambilnya dari perasaan Ataya. Dia pernah menyanyikan Lagu “Romantic Day” saat
melihat kedua orang tuanya berdansa laksana putri dan pangeran, dia pun
seolah-olah mendalami perasaan ayah dan bundanya saat itu. Suara Ataya yang
sangat Istimewa memperlihatkan bahwa dia seperti manusia sempurna yang tak ada
kekurangannya sedikitpun. Tapi itu tetap tidak mungkin, Ataya tetap ada
kekurangannya yang kita belum mengetahuinya.
***
2
tahun kemudian, Ataya sudah memasuki kelas XII SMA Putri Indonesia. Seiring
berjalannya waktu, dia semakin terlihat sangat cantik saja. Sesuai nama
sekolahnya, disana khusus untuk siswi perempuan saja. Dan Ataya dipilih menjadi Miss Indonesia yang
mewakili sekolahnya karena termasuk wanita tercantik. Dengan memakai Kebaya
corak putih gading, Ataya terlihat sama persis seperti putri keraton. Walaupun
sekarang Ataya menjadi wanita terpopuler, dia tetap rendah hati dan ramah pada
siapa saja.
Namun,
di SMA Putri Indonesia ini Ataya merasa kehilangan. Apalagi kalau bukan bakat
menyanyi nya dan sang Guitaris yang selalu mendampinginya dahulu. Karna di SMA
nya tidak ada Ekstra Menyanyi, maka Ataya mengambil jadwal di luar jam
sekolahnya. Dan siapa kira, bahwa Ataya bertemu dengan Leonard kawan SMP nya
dahulu yang sekarang masih menjadi sang Gitaris berbakat.
“Ataya
kan ?” Sapa Leo
“Iya,
kamu Leonard ya ?”
“Yoi,
sudah lama sekali tidak bertemu. Beruntung juga aku hari ini, dan kamu menjadi
semakin manis saja. Hehehe” Gurau Leo
“Kamu
ada saja yang diomongin. Hemm sekarang nglanjutin kemana Leo ?”
“Ke
SMK Musikal Bandung, kamu sendiri ?”
“Wah,
pasti enak ya sekolah yang sesuai banget sama bakatmu. Aku di SMA Putri
Indonesia.”
“Loh,
kamu juga pas banget disana. Pasti sudah jadi Miss terpopuler kan disana ?”
“Iya,
tapi kan tidak sesuai keinginan ku. Aku ingin jadi penyanyi bukan model.” Jawab
Ataya
“Setuju
banget deh aku kalau kamu jadi penyanyi, terus aku jadi Gitaris nya. hehe kan
pas.”
“Bagaimana
kalau kita jadi satu Group saja di tempat LES ini ?” saran Ataya
“Mau
banget Ataya. Yes yes yes…” (sambil ceringas-ceringis)
***
Ataya
semakin disibukkan oleh jam tambahan music yang digelutinya. Dia jadi sering
pergi bersama Leonard untuk berduel. Bunda Ataya juga mendukung atas bakat
putrinya. Seiring waktu, Ataya merasakan hal yang berbeda pada Leo begitu juga
sebaliknya.
Sore
ini, Leonard mengajak Ataya pergi ke taman desa mereka dengan alasan berlatih
memadukan music.
“Apa
yang ingin kita nyanyikan ?” Kata Ataya membuka pembicaraan.
“Bagaimana
kalau Lagu Cinta ?” Jebak Leo
“Cinta
? cinta yang bagaimana ? kamu kan tahu sendiri kalau aku menyanyi sesuai dengan
perasaan, tapi aku belum pernah merasakan cinta.” Polos Ataya.
“Hemm,
bukan itu maksudku Atayaaa !!” (Kesal)
“Lalu
apa ?” (Datar)
“Be
be gini, aaaku suka sama kamu Ataya.” (Kikuk)
“Suka
apa ?” (Masih juga Datar.)
“Huaaaaa
!! Atayaaa, aku cinta sama kamu.” Teriak Leonard, hingga orang-orang melihat
mereka.
“Ha
?” (Kaget tapi tetap Datar.)
“Kamu
gemesin kalau bingung begitu, ya sudah tidak usah di bahas ya.” Akhir kata
Leonard. (nyerah)
Di
balik perasaan Datar nya Ataya, dia mengerti maksud Leonard dan dia juga ingin
mengatakan bahwa dia juga suka padanya. Namun, Leo keburu berganti topic jadi
Ataya menunda perasaannya.
“Aku
punya Lagu buat kamu Ataya, dengerin ya.” (sembari main gitar. Huuu soo sweet)
“Leo, sebenarnya aku juga suka sama kamu.” (Tersipu)
“Haa ? Sungguh ?” (Kaget campur bahagia)
“Iya.” (Datar)
“Coba, buktinya apa ? nyanyi’in Lagu Cinta kalau begitu.” Tantang Leonard.
“Baiklah.” (Bersiap bernyanyi)
** Jujur saja ku tak mampu
Tuk pergi menjauh darimuMeski hatiku rapuh
Kau tak di sampingku setiap waktu
Ku sadari aku cinta padamu
Meski ku bukan yang pertama di hatimu
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintamu yang terbaik ** (Cassandra-Cinta Terbaik)
Tapi cintaku terbaik untukmu
Meski ku bukan bintang di langit
Tapi cintamu yang terbaik ** (Cassandra-Cinta Terbaik)
“Terima kasih putri. Suaranya merdu
sangat. Hehe”
“Sama-sama, terima kasih juga.”
“Oke-oke, Ehemm cek 123.. yay, Ai Lof
yu.” (Cengar-cengir)“Ha ? Apa Leo ? Ai Lof yu ? hehehe, me too deh.” (menahan tawa)
“Iya, bukannya benar artinya aku cinta kamu ?” (Bingung)
“He’em.” Akhir kata Ataya.
Mereka jalani hari-hari dengan penuh kasih sayang dari hati mereka yang paling dalam. Dengan tanggal jadian saat Ataya genap 17 tahun (wow banget)
***
Bernyanyi
dan bermain gitar memang pasangan yang serasi apalagi berparas cantik dan
tampan. Semakin banyak saja yang terpesona akan hubungan mereka yang selalu
saja Romantis penuh cinta. Entah saat berjalan bersama, bermain, belajar maupun
berduel. Mereka selalu membawa aura yang bahagia sehingga orang yang
memandangnya juga turut merasakan nya. Suatu ketika, Ataya dan Leonard berjanji bertemu di sebuah Telaga. Demi permintaan kekasihnya, Leonard pergi dengan membawa Gitar. Awalnya, Leo akan menjemput Ataya di rumah, tapi Ataya menolak. Dia yang akan menjemput Leo ? Haaa yang benar saja ?? Tapi entahlah …. Akhirnya, Ataya sampai di depan rumah Leo dengan sepeda jaman Belanda milik kakeknya.
“Eh say, naik apa ?” Sapa Leo
“Tuh lihat saja, kamu harus bonceng aku pakai itu. Hehe” sambil menunjuk sepeda yang ia maksud.
“Waahh, oke deh say. Ayo cabut !” Menuju sepeda Kakeknya Ataya.
Sepanjang perjalanan, Ataya bercerita tentang sejarah sepeda tersebut sejak Kakeknya masih bujang. Awalnya, sepeda itu diperoleh dari hadiah sang kaisar pada masanya. Kakek Ataya pun senang mendapat penghargaan berupa barang mewah kala itu, tak terduga ternyata Nenek Ataya mempunyai simpati pada kakek Ataya saat bertemu di jalan. Karna merasa kasihan pada Nenek Ataya, Kakek Ataya pun membonceng nya sampai rumah dengan penuh perjuangan kala mendaki dan menuruni bukit. Mereka terlihat saling menyayangi, dan peristiwa itulah di kenang sebagai “Romantic Day” yang pertama kalinya di desa sang Nenek.
“Wah say, berarti kita bakal jadi penerus kakek dan nenek mu dong ? hehe” Tanya Leo pada akhirnya.
“Yaaa bisa jadi. Hihihi” Ataya nyengir.
Karna terhibur oleh cerita Ataya, tak terasa Leo dan Ataya sudah sampai di Telaga tanpa rasa lelah sedikitpun. Disandarkannya sepeda tersebut di sebuah gubuk mungil pinggir telaga. Namun, mereka berdua memilih duduk di pinggiran telaga sembari bermain air. Ataya memang suka sekali bermain air sejak kecil. Bahkan saat Ulang Tahun pun Ataya di guyur air merasa senang sekali dan membuat teman-teman Ataya heran. Hehehe Ataya-ataya, lucunya….
Jreeng jrengg … (Leo mulai memainkan gitarnya, membuat Ataya teringat sebuah lagu yang ingin dia nyanyikan.)
“Ay, kita nyanyi yuk ?” Ajak Ataya.
“Hemm, oke. Mau Lagu apa?”
“Cinta yang Sempurna – Kangen Band”
“Sipp, masuk intro”
*Bagai bintang di langit, begitu Cinta kita.. Tak kan pernah binasa, meski terhapus massa…* (Leo)
** Terima kasih Tuhan, Kau telah sempurnakan.. Telah Engkau ciptakan, dia untuk diriku..** (Ataya)
*Aku bukan Pujangga,yang pandai rangkai kata.. yang ku punya hanyalah, hanya segenggam cinta*
**Saat kita melaju, diatas dua roda.. Pegang erat pundakku. Saat meninggalkanku**
*Patahkanlah sayap ku, saat aku mencoba berpaling dari kasih dan sayang mu..*
**Maka bunuhlah aku, bila aku mencoba berpaling dan mencari penggantimu…**
Bersama alunan simfony yang begitu indahnya, mereka hanyut dalam suasana penuh cinta. Tentu saja… hari itulah yang namanya “Romantic Day” terbukti saat mereka bernyanyi dengan iringan suara gitar, banyak yang melihat bahkan ikut merasakan bahagianya hari itu.
“Woooww.. Always Romantic Day” teriakk orang-orang yang melihat Leo dan Ataya.
Mendengar teriakan itu, Leo dan Ataya menghentikan suara mereka dan menoleh ke sumber suara yang mereka ketahui bahwa mereka sedang berada diantara kerumunan orang-orang yang bisa dibilang salut pada mereka. Oooww saat kepergok pun tetap soo sweet.
“Kalian memang pasangan yang serasi, masnya ganteng, mbaknya juga cantik banget. Apalagi suara kalian yang bagus juga.”
“Hehe, terimaa kasiih.” Jawab Leo
(Ataya hanya tersenyum memandangi orang tersebut.)
Tiba-tiba, cuaca menjadi mendung dengan titik-tik air yang mulai berjatuhan. Dengan cepat, Leo melindungi Ataya untuk berteduh di gubuk mungil tempat sepeda mereka disandarkan.
“Bakalan jadi Hujan So Sweet ay ?” Senyum Ataya
“Iya nih, orang-orang sampai salut pada kita. Aku tidak menyangka. Aku bangga banget, bisa memiliki kamu manis.”
“Aku juga tampan, hehe”
Dengan canda dan tawa mereka menikmati suasana hujan masih juga dengan Cinta. Entah sampai kapan mereka bersama ? tetap akan dikenang sebagai “Romantic Day” pada setiap tahun baru (01 Januari)
Happy
Ending gann..
Senin, 11 Maret 2013
Ujian Praktik Pidato Bahasa Jawa
Assalamu’alaikum
Wr. Wb
Ingkang kula urmati
Bapak Kavinji Kepala Sekolah SMP N 1 Baturetno,
Ingkang kula urmati Bapak/Ibu Guru SMP N
1 Batureno,
Bapak/Ibu Wali murid ugi ingkang kula
aosi,
Kadang siswa kelas 7,8, lan 9 ingkang
kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kula
dherekaken ngaturaken puji syukur wonten ngarsanipun Allah SWT ingkang sampun
maringi pinten-pinten kenikmatan dhumateng kita sedaya, sahingga kita saget
makempal wonten palepasanipun kadang siswa kelas 9 SMP Negeri 1 Baturetno
kanthi mboten wonten pambengan setunggal punapa.
Wekdal punika keparenga kula matur
makili rencang-rencang kelas 9 ingkang sekedap malih badhe ninggalaken bangku
sekolah SMP Negeri 1 Baturetno. Kula ngaturaken panuwun dhumateng Bapak/Ibu
Guru ingkang sampun mbimbing, maringi kathah wewarah Ilmu Pengetahuan
salaminipun tigang taun kanthi sabar lan tlatos. Salajenganipun, ugi matur
suwun sanget dhumateng Bapak/Ibu Wali Murid ingkang sampun makarya supados
pangupa jiwa supaya kita siswa-siswi kelas 9 saget nglajengaken pados seserepan
babagan Ilmu.
Ingkang kaping kalih, mesti kemawon
kita siswa-siswi kelas 9 kathah kalepatan ingkang dipun sengaja utawi mboten
sengaja, kula atas nami wakil kelas 9 nyuwun pangapunten ingkang
saageng-agengipun. Ugi dhumateng Bapak/Ibu Wali Murid mbok bilih wonten
klentunipun anggen kula solah bawa kula ngaturaken pangapunten. Mboten kesupen
dhumateng adik-adik kelas 7 lan 8 menawi wonten kalepatan sak dhangunipun
tigang taun ngudi kawruh wonten ing SMP Negeri 1 Baturetno kula nyuwun
pangapunten.
Kaping tigonipun, kula lan
rencang-rencang kelas 9 nyuwun pamit, donga lan palilahanipun dhumateng
Bapak/Ibu Guru ingkang salaminipun tigang taun dipun gula wenthah, ugi
Bapak/Ibu wali murid, sarta adik-adik kelas 7 lan 8 supados saget nglajengaken
ing pawiyatan sak lajengipun.
Ingkang pungkasanipun, kula pesen
dhumateng adik-adik kelas 7 lan 8
ingkang sregep ngudi Ilmu ing pawiyatan SMP Negeri 1 Baturetno. Mugi-mugi saget
dhamel kuncaranipun SMP Negeri 1 Baturetno ing saindenging bawana.
Mekaten ingkang saget kula aturaken,
Jenang Selo wader kalen sesondheran apuranta menawi lepat nyuwun pangapura.
Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, menawi wonten kaladuking atur kula nyuwun
pangkasami.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Langganan:
Postingan (Atom)




